Kendaraan Hemat Energi Buatan Dalam Negeri
Dunia saat ini sedang mengalami perubahan iklim global yang mengakibatkan perubahan cuaca yang ekstrim mulai dari perbedaan antarmusim yang tidak jelas, es-es di antartika yang mulai mencair, kekeringan yang sangat, banjir di berbagai tempat, badai yang lebih sering terjadi dan berbagai bentuk kekacauan cuaca yang terjadi berbagai belahan dunia. Kejadian ini membuat sebagian orang berpikir bahwa hal ini disebabkan oleh berbagai tindakan manusia yang tidak memperhatikan alam demi mengejar keuntungan yang sebanyak-banyaknya untuk dirinya atau kelompoknya sendiri. Misalnya saja pembukaan lahan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit karena hasil olahan dari perkebunan tersebut mempunyai nilai yang cukup mahal dan diperlukan oleh berbagai industri di dunia mulai dari minyak goreng, sabun, hingga bahan bakar ramah lingkungan.
Sikap tidak ramah lingkungan tersebut akhirnya mulai ditinggalkan seiring dengan makin sadarnya setiap orang akan ancaman global warming dan terbatasnya kemampuan alam untuk memperbaiki dirinya. Dalam dunia desain pun muncul berbagai pemikiran dan salah satunya adalah Sustainable Design atau Desain Berkelanjutan. Pola pemikiran ini berusaha untuk mengubah pola kerja desain saat ini yang tidak ramah lingkungan menjadi pola desain yang ramah lingkungan. Ada tiga hal yang digarisbawahi oleh pemikiran ini yaitu Eco-Redesign, Eco/Sustainable Innovation, dan Sustainable System Innovation/ Sustainable Product Service System.
Eco-Redesign merupakan pola pemikiran untuk mengidentifikasi dan mengurangi dampak lingkungan yan g negatif dari produk atau proses desain yang telah ada. Eco/Sustainable Innovation merupakan pola pemikiran yang berupaya mengembangkan produk atau metoda yang sama sekali baru, yang sejak pengembangan awalnya telah mempertimbangan faktor-faktor lingkungan dan sosial. Sedangkan Sustainable System Innovation/ Sustainable Product Service System merupakan pola pemikiran yang berusaha menemukan sistem inovasi atau jasa yang menawarkan nilai jangka panjang dan sekaligus menghindari masalah lingkungan dan sosial yang dapat ditimbulkan.
Dari pemikiran-pemikiran yang muncul tersebut desainer-desainer di Indonesia pun turut ambil bagian dan tidak mau ketinggalan. Dalam hal ini masalah energi merupakan masalah yang cukup penting di negara ini karena cadangan minyak yang sudah hampir habis dan Indonesia belum mempunyai alternatif bahan bakar lain yang dapat digunakan untuk transportasi. Kebanyakan pengembangan bahan bakar yang dulu dilakukan hanya bersifat seremonial belaka dan tidak mempunyai kelanjutannya sampai sekarang. Berdasarkan masalah tersebut saat ini di Indonesia mulai muncul pengembangan energi yang terbarukan dalam bentuk pengembangan perkebunan jarak sebagai penghasil bahan bakar biofuel. Kemudian pencarian alternatif terhadap tanaman-tanaman lain yang dapat digunakan untuk keperluan pengembangan bahan bakar biofuel seperti jagung, kelapa sawit, tebu, dan sorghum karena yang sekarang terjadi pengembangan perkebunan ini telah mengubah lahan yang awalnya untuk produksi makanan menjadi lahan untuk produksi bahan bakar.
Indonesia melalui Pertamina telah memulai memproduksi biofuel ini dalam bentuk biosolar dan menjualnya dengan brandname Pertamina Biosolar dengan harga Rp. 4.300,- per liter pada 20 Mei 2006. Kemudian pada 11 November 2008 Menteri ESDM didampingi Dirjen Migas dan Dirut PT. Pertamina bertempat di Depot Pertamina Plumpang meluncurkan Pertamina Biosolar untuk industri dan perluasan penjualan BBM di SPBU seluruh Indonesia. Kebutuhan BBM saat ini mencapai sebesar 3.4 Juta KL/tahun yang diperuntukkan bagi transportasi, pembangkit PLN dan industri, namum kapasitas yang tersedia hanya 2,5 juta KL/tahun sehingga masih diperlukan kapasitas tambahan untuk mendukung kebutuhan BBM ini. Saat ini PT Pertamina (Persero) telah memasarkan Biosolar di 411 SPBU di Jakarta, Denpasar dan Surabaya dengan volume penjualan mencapai 80.600 KL/bulan. Untuk sektor industri pengiriman Biosolar telah dimulai sejak tanggal 1 Nopember 2008 lalu dan akan terus dikembangkan di masa datang. Pada waktu yang bersamaan, Untuk produk Biopremium telah dipasarkan di 14 SPBU Jakarta dan Malang dengan volume penjualan rata-rata 9.500 KL/bulan, sedangkan Biopertamax sejumlah 1.651 KL/bulan, dipasarkan di 46 SPBU yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Malang, dan Denpasar. Biosolar sendiri merupakan campuran Solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester), sedangkan Biopremium merupakan campuran Premium dengan Ethanol Unhydrou Tardenaturasi dan Biopertamax adalah campuran Pertamax dengan Ethanol Unhydrou Tardenaturasi.
Aktifnya Pertamina dalam melakukan usaha Eco-Redesign terhadap bahan bakar yang ada saat ini menumbuhkan minat-minat pihak lain untuk melakukan Eco-Redesign dan Eco/Sustainable Innovation. Hasilnya terwujud dalam bentuk kendaraan yang lebih hemat dalam menggunakan bahan bakar dan dapat menggunakan bahan bakar gas sebagai alternatifnya. Kreasi-kreasi yang muncul sangat banyak seperti mobil ARINA – SMK dan mobil GEA. Mobil Arina-SMK yang termasuk sebagai microcar ini dirancang menggunakan mesin sepeda motor dengan kapasitas mesin 150 cc, 200 cc, dan 250 cc. Direktur Pembinaan SMK Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Joko Sutrisno, menyatakan dengan ukuran mungil, microcar dapat melaju di jalan dan gang yang sempit. Ia hanya butuh garasi kecil, dengan dimensi (panjang, lebar, tinggi) 2.753 x 1.325 x 1.708 mm. Kendaraan yang rencananya dijual dengan harga berkisar Rp 24 jutaan ini dapat dijadikan sebagai kendaraan personil dan memberikan perlindungan terhadap hujan dan sengatan panas matahari. Alasan utama pembuatan microcar adalah untuk tujuan ekonomis dan efisiensi. Baik karena alasan harga peralatan dan teknologi yang diaplikasikan, yang mempengaruhi harga jual, maupun alasan mahalnya bahan bakar. Dengan konsumsi bahan bakar setara 40 km per liter, microcar merupakan alasan terbaik mengatasi mahalnya biaya operasional, termasuk biaya perawatan.
Sebelumnya, Indonesia juga masih mengembangkan Mobil GEA (Gulirkan Energi Alternatif) dari PT. INKA (Industri Kereta Api) Madiun. Mobil ini sedang dalam proses dikembangkan oleh para ahli di Indonesia menjadi the city car. GEA baru hadir dengan mesin 500 cc buatan lokal dengan body buatan INKA. Mobil ini dirancang dengan memperhatikan kebutuhan dari penggunanya terutama dari kalangan perseorangan seperti ibu-ibu yang ingin tampil dinamis dan simpel dengan model yang sederhana. Selain itu calon pengguna dari negara Australia dan Amerika pun cukup tertarik karena keramahannya terhadap lingkungan.Terpenuhinya aspek kedua berupa penghargaan terhadap planet (lingkungan hidup) dari produk GEA ini karena bahan bakar kendaraan ini hanya menggunakan bahan bakar gas yang tersedia secara melimpah dan aman terhadap lingkungan. Bahan bakar GEA memang diutamakan menggunakan BBG namun terbuka opsi untuk juga mengunakan BBM Premium mengingat tingkat konsumsinya yang sedikit. Jika mempergunakan bahan bakar premium konsumsi BBM GEA bisa mencapai 25-30 km untuk setiap liternya. Angka itu sudah nampak dalam hasil ujicoba yang telah dilakukan pada jalur Madiun, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dan Magetan selama 3 bulan mulai April hingga Juli dengan menempuh jarak sejauh 10.000 KM dan kecepatan rata-rata 85 km/jam. Selain soal konsumsi BBM dan perawatan yang mudah, PT INKA memprediksi bisa memberi harga GEA dengan bandrol Rp 45- Rp 50 juta per unit. (Andi Aulia Hamzah)
Referensi:
Anonymous. 2006. Pertamina Biosolar : Ramah Lingkungan. Artikel online, diakses 21 Mei 2009, http://www.pertamina.com/index.php?option=com_content&task=archivesection&id=5&Itemid=683
Anonymous. 2008. Menteri ESDM Luncurkan Pertamina Biosolar untuk Industri. Artikel Online, diakses 21 Mei 2009 http://www.esdm.go.id/berita/migas/40-migas/2110-menteri-esdm-luncurkan-pertamina-biosolar-untuk-industri.pdf
Humasristek. 2008. Microcar 100 Persen Produksi Lokal. Artikel online, diakses 26 Mei 2009, http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=3199
Andiyono, Waskito. 2008. Mobil GEA PT INKA Madiun, Mulai Dilirik. http://oto.detik.com/read/2008/10/07/174809/1016713/648/mobil-gea-pt-inka-madiun-mulai-dilirik (diakses 1 April 2009)








